Apakah Anda Terkena Minthomania?

Musuh terburuk dari seorang pembohong adalah seseorang dengan memori yang baikDodinsky

Baru-baru banyak media menyiarkan adanya kebohongan yang dilakukan oleh seorang kader sebuah partai yakni Ratna Sarumpaet. Berita ini cukup menghebohkan awalnya ketika ada sebuah postingan di sosial media yang mangatakan bahwa Ratna dipukuli di Bandara Husein Sastranegara, Jawa Barat. Tampak pada foto yang diposting muka Ratna tampak lebam, matanya tak bisa dibuka lebar, bibirnya sedikit lebih monyong.

Namun, setelah diselidiki oleh pihak berwajib terbukti jika wajah Ratna lebam bukan lantaran dipukuli tapi bekas operasi plastik. Terbukti pada tanggal 21 September 2018 Ratna telah melakukan operasi plastik di sebuah klinik bedah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Bukti diperkuat dari rekaman CCTV di rumah Sakit Khusus Bedah Bina Estetika.

Dari kasus Ratna Sarumpaet ini terbukti bahwa ia berbohong. Tahukah Anda ternyata berbohong itu adalah penyakit psikolologi yang disebut dengan minthomania ,Dimana karena gangguan ini membuat individu berbohong tanpa sadar dan tanpa tujuan. Mungkinkah Ratna Sarumpaet menderita minthomania ? Perlu kajian lebih dalam mengenai ini.

Nah dalam kajian ilmu psikologi, sebutan minthomania diberikan pada orang yang sering berbohong dan menganggap kebohongan itu nyata adanya. Memang si penderita tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, ia hanya menceritakan khayalan yang ada di kepalanya.

Gangguan kejiwaan minthomania ini penyebabnya adalah kegagalan-kegagalan yang sering dialami orang tersebut. Jika ada pepatah mengataka kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, namun bagi penderita gangguan ini menganggap bahwa kesuksesan itu hanyalah mitos. Sama halnya ia merasa lemah untuk menerima kejatuhan atau kegagalan.

Kegagalan itu macam-macam misalnya karena keluarga yang kacau, studi, pekerjaan, asmara. Akhirnya kebohongan itu adalah cara untuk melarikan diri dari kenyataan pahit. Uniknya jika ada orang yang percaya pada kebohongannya maka ia merasa lega karena kenyataan yang pahit itu terasa berkurang. Untuk pengobatan penyakit ini maka ia harus keluar dari area kebohongan, tentu saja dengan bantuan profesional. Juga kemauan kuat untuk sembuh.

Ciri-ciri seorang dengan gangguan minthomania adalah suka membasar-besarkan sesuatu. Misalnya ia mengaku memiliki harta yang melimpah, pasangan yang menarik, rumah yang mewah meski sebenarnya mewah artinya mepet sawah. Sementara orang sekitar melihat bahwa orang tersebut memiliki penghasilan pas-pasan dan tampang kurang oke.

Ia tampak menciptakan realita baru dalam dirinya , ia bangga bisa menceritakan itu pada orang lain. Namun jika ada orang yang menyanggah karena tahu bahwa ia bohong biasanya ia akan mengubah cerita agar orang tersebut menjadi percaya. Ini semua hanyalah manipulasi.

Kesimpulannya adalah sederhana yakni bersyukur atas apa yang ada pada diri kita. Jika gagal janganlah mencoba dengan cara yang sama, tapi carilah cara lain yang lebih efektif dengan hasil yang optimal. Mari kita jauhi kebohongan, berita hoax, dan memaksakan orang untuk memercayai kebohongan kita.