Cerita Sukses Membuka Pasar Buku

Kerja itu senantiasa menjauhkan kami dari tiga keburukan besar: Kebosanan, kejahatan, dan kemiskinan.” (Voltaire)

Minggu 23 Juli 2018, menjelang siang matahari sudah tinggi. Hawa panas dan deru kendaraan di jalan Solo-Jogja menyatu. Terik matahari, kepulan asap, dan mesin kendaraan yang meraung telah membangunkan rasa bosan. Rasanya ingin keluar dari hiruk pikuk jalan, terus ngopi santai menikmati hidup. Namun, hari minggu sudah saya rencanakan untuk mengunjungi dua toko buku. Mau nggak mau saya harus menikmati jalan macet dan panas meski ati mrengkel.

Toko buku pertama yang saya kunjungi ada di jalan Affandi. Toko buku ini rapi, beberapa penjaganya berparas cantik, sementara ruangan tercium bau wangi dengan lantunan musik mengiringi langkah. Buku-buku tertata rapi sesuai tema. Alat pembayaran di kasir lengkap, bisa non tunai dan tunai. Kelemahannya cuma satu, tidak bisa utang heheheh. Sekitar setengah jam saya melihat buku-buku yang menarik. Satu buku saya ambil dan saya bawa ke kasir. Keluar dari toko, langsung kembali menuju jalan Affandi.

Matahari semakin menyengat, saya menuju jalan Jogja-Solo menikmati kemacetan dengan membawa ati mrengkel. Sampailah di toko kedua, letak toko buku itu berada di jalan Jogja-Solo tepat di depan museum Affandi. Toko tersebut bersebelahan langsug dengan kali Gajahwong.

Toko buku yang kedua ini bercat berwarna putih berlumut hijau kecoklatan. Di dalam ruangan tidak ada AC dan kipas angin. Bisa dibayangkan jika siang hari ruangan sangat panas dan gerah. Toko buku ini bisa dikatakan sebagai legenda di Jogja.

Dicap legenda karena kelemahanya tidak rapi. Bisa dibilang toko ini seperti gudang buku. Semuanya berserakan, saling tumpuk. Kalau beruntung, teliti, dan mau keluar tenaga untuk membuka tumpukan buku, Anda bisa menemukan buku karya penulis legendaris dan langka.

Murah merupakan cap kedua yang menyebabkan toko buku ini jadi legenda. Saya yakin toko buku ini paling murah dunia akhirat. Saking murahnya, buku yang dikeluarkan penerbit luar negeri sekelas Pinguin Books akan Anda temukan di sana dengan harga Rp.5000. Padahal harga di toko buku lain dengan genre buku terbitan Pinguin Books paling murah adalah Rp. 50.000.

Tak seperti toko buku pertama yang memiliki penjaga berparas cantik, toko buku legendaris ini memiliki dua karyawannya yang menyandang tunarungu. Dua karyawan tersebut merupakan suami istri dan keduanya tunarungu. Toko buku ini jarang buka, kalau sudah pameran keluar kota. Toko buku ini buka saat pameran di luar kota sudah selesai.

Saat ada pembeli yang bertanya, maka yang melayani adalah kasir toko yang notabene merupakan anak dari pemilik toko. Anak dari pemilik toko bercerita bahwa stok buku mereka sangat melimpah, dan mereka masih memiliki satu gudang besar di jalan Wonosari dekat Kidsfun.

“Gudange siji mas, ning jalan wonosari cerak kidsfun” kata kasirnya sambil memilah buku untuk dirapikan.

“Ra melok pameran mas sesuk September nak Jogja?” tanya saya sambil melihat tumpukan buku.

“Wes ra oleh melu mas,”jawabnya dengan nada rendah.

Mereka sudah tidak diizinkan ikut pameran di wilayah Yogyakarta sebab mereka selalu banting harga. Bagi penerbit dan toko buku lain, harga murah dari sebuah toko buku adalah musuh bersama. Sebab harga murah adalah perilaku yang dianggap merusak pasar. Sehingga toko buku dan penerbit lain bisa kalah saing dan pastinya jatuh rugi.

Oleh karena itu, toko buku dekat kali Gajahwong ini tidak diizinkan oleh para penerbit untuk membuka pameran atau ikut pameran di wilayah Jogja. Ia diberi cap hitam (blacklist) oleh toko buku dan penerbit seluruh Jogja.

Namun, mereka tetap tidak patah semangat. Dilarang ikut pameran bukan berarti berhenti berjualan. Mereka tetap konsisten membuka pasar dengan kunci paling ciamik yang mereka miliki, “HARGA MURAH/BANTING REGO.”

Dengan dua karyawan yang menyandang disabilitas dan satu kasir, mereka membuka pasar di luar Jogja. Tiga orang yang menjadi satu tim itu penuh gairah menata buku dan merapikan buku. Ditambah lagi mereka memiliki kemauan kuat dan konsisten untuk membuka pasar meski sudah dicap hitam. Alhasil mereka melakukan pameran sendiri di Solo, Bandung, Semarang, Jakarta, dan luar Jawa.

Mereka tak berhenti meski dicap perusak pasar. Mereka tetap bekerja, berpikir, fokus dan memiliki kemauan kuat untuk menjual buku. Semangat toko buku dan tim mereka mengingatkan kepada kita, untuk selalu memiliki kemauan kuat dan konsisten meski banyak rintangan dan tekanan dari banyak pihak.

 

Baca Juga:  Succes Passport : 1 Passport 1000 Potensi Pendapatan

Tulisan tersebut merupakan hasil wawancara  singkat dengan pemilik toko buku.