Laju Inflasi Januari-Juli 2018 di Yogyakarta

Tak terasa saat ini kita berada penghujung bulan Agustus 2018. Di pertengahan tahun, kini saatnya karyawan, buruh, investor, dan stakeholder melakukan evaluasi data. Kita bisa analisa mulai dari tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, laju upah, dan pendapatan perkapita.

Data sangat penting sebagai indikator mengambil keputusan bagi masyarakat. Data inflasi sangat penting bagi karyawan atau buruh, agar bisa membandingkan kecepatan laju upah dan kenaikan harga bahan pokok. Ketika laju upah lambat dan sebaliknya laju kenaikan harga lebih cepat, maka otomatis upah yang diterima karyawan atau buruh akan tersunat pisau inflasi.

Misal upah Anda sebagai karyawan atau buruh 300 rupiah di bulan Juli, harga beras 200 rupiah dan Anda bisa menabung 100 rupiah. Di bulan Agustus upah Anda naik menjadi 400 rupiah, namun harga beras yang awalnya 200 rupiah ternyata naik menjadi 400 rupiah, alhasil di bulan Agustus Anda sudah tidak bisa menabung. Kenapa tidak bisa menabung? Sebab laju kenaikan harga (inflasi) beras lebih cepat ketimbang kenaikan gaji Anda atau mungkin gaji Anda tak pernah naik? Bercanda ha ha ha!

Data inflasi juga dibutuhkan oleh pemilik modal. Inflasi yang tinggi dan tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan masyarakat akan menyebabkan daya beli masyarakat turun. Ketika daya beli masyarakat turun, proses produksi sebuah bisnis bisa terganggu. Jika masyarakat sebagai konsumen turun daya belinya, alhasil penjualan produk atau jasa bisa turun dan titik yang paling ditakuti ialah mesin produksi berhenti.

Pemegang kebijakan juga membutuhkan data inflasi. Sebab bila harga naik secara terus-menerus dan tidak bisa dikontrol, proses berjalannya pemerintahan bisa limbung. Elemen masyarakat tidak percaya pada pemerintah yang sedang berkuasa. Alhasil terjadi konflik dan huru-hara. Inflasi yang bisa melimbungkan pemerintahan sudah masuk indikator hiperinflasi.

Indikator Laju Inflasi

Tidak semua kenaikan harga produk bisa masuk kategori hiperinflasi. Ada beberapa kelompok inflasi dengan pengaruh yang berbeda-beda pada perekonomian. Tentunya yang paling ditakuti oleh masyarakat, pemerintah, dan pemilik modal adalah kategori inflasi berat dan hiperinflasi.

Ada 4 indikator inflasi berdasarkan pengaruh parah dan tidaknya bagi perekonomian masyarakat. Pertama, inflasi ringan. Kategori inflasi ringan ialah inflasi yang kurang dari 10 % pertahun. Jenis inflasi ringan ini paling sering menimpa masyarakat bahkan setiap tahun kita mengalami inflasi ringan. Kedua, inflasi sedang. Kenaikan harga secara berturut-turut antara 10%-30%.

Ketiga, inflasi berat. Kenaikan harga berturut-turut antara 30%-100% pertahun. Inflasi berat ini pernah menghantam negara kita pada tahun 1997 saat kita mengalami krisis moneter dan pada 1998 harga tidak terkendali akhirnya nilai inflasi menembus angka 77,63 persen. Dampaknya adalah pemerintahan Soeharto limbung dan membuat ia lengser keprabon. Keempat, hiperinflasi yakni inflasi parah dengan laju kenaikn harga menembus 100% pertahun. Hiperinflasi menyebabkan sebuah ekonomi negara bisa remuk secara perlahan.

Laju Inflasi Januari-Juli 2018 di Yogyakarta

Tak sedikit buruh, karyawan, dan pengusaha yang menjalankan usahanya di wilayah Yogyakarta. Bagaimana kondisi inflasi bulan Januari–Juli 2018 di Yogyakarta? Apakah terjadi inflasi ringan, sedang, berat, atau malah hiperinflasi?

Selama awal Januari hingga akhir Juli, pergerakan inflasi di Yogyakarta masih dibawah 10%. Kota Yogyakarta pada Bulan Januari 2018 mengalami inflasi sebesar 0,55 persen. Indek harga konsumen (IHK) kelompok bahan makanan naik sebesar 1,77 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,15 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,28 persen; kelompok sandang naik 0,73 persen; kelompok kesehatan naik 0,04 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,05 persen; dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,44 persen.

Laju Inflasi sebesar 0,51 persen pada Bulan Februari 2018. IHK bahan makanan naik sebesar 0,43 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,14 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,10 persen; kelompok sandang naik 0,32 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,01 persen; kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan turun sebesar 1,17 persen; sedangkan kelompok kesehatan relatif sama dengan bulan Januari.

Maret 2018 mengalami inflasi sebesar 0,15 persen. IHK kelompok bahan makanan naik sebesar 0,21 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik sebesar 0,15 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,03 persen; kelompok sandang naik 0,37 persen; kelompok kesehatan naik 0,07 persen; kelompok pendidikan naik 0,03 persen, sedangkan satu kelompok lainnya yaitu kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan angka indeksnya turun sebesar 0,26 persen.

April 2018 inflasi sebesar 0,10 persen. IHK kelompok makanan jadi naik sebesar 0,12 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,19 persen; kelompok sandang naik 0,28 persen; kelompok pendididkan naik 0,04 persen; kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,77 persen, sedangkan dua kelompok lainnya yaitu kelompok bahan makanan dan kesehatan angka indeksnya turun sebesar 0,54 persen dan 0,17 persen.

Mei 2018 mengalami inflasi sebesar 0,08 persen. Indek harga konsumen kelompok makanan jadi naik sebesar 0,28 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,04 persen; kelompok sandang naik 0,06 persen; kelompok pendidikan naik 0,01 persen; kelompok tranpor, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,65 persen, sedangkan dua kelompok lainnya yaitu kelompok bahan makanan dan kesehatan angka indeknya turun sebesar 0,42 persen dan 0,19 persen.

Juni 2018 mengalami inflasi sebesar 0,46 persen yang disebabkan naiknya IHK kelompok bahan makanan naik sebesar 1,08 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,26 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,11 persen; kelompok sandang naik 0,15 persen; kelompok kesehatan naik 0,39 persen; kelompok pendidikan naik 0,03 persen; dan kelompok tranpor, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,80 persen.

Juli 2018 mengalami inflasi sebesar 0,56 persen. IHK kelompok bahan makanan naik sebesar 0,88 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,39 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,46 persen; kelompok sandang naik 0,16 persen; kelompok kesehatan naik 0,05 persen; kelompok pendidikan naik 0,97 persen; dan kelompok tranpor, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,62 persen. (Sumber: BPS Yogyakarta). 

Selama bulan Januari-Juli 2018 angka inflasi paling tinggi tercatat pada bulan Juli yang menembus angka 0,56% dan angka paling rendah ada pada bulan mei sebesar 0,08 persen. Berdasarkan indikator, berarti inflasi di Yogyakarta sejak Januari-Juli 2018 masuk indikator inflasi ringan.