Marhaban Ya Inflasi

Bulan Ramadhan dengan berbagai hiruk pikuknya sudah melangkah masuk. Tuhan  menurunkan bulan suci untuk introspeksi diri, agar dapat melakukan lompatan kualitas diri setelah bulan suci.

Namun ada yang aneh dalam dinamika perilaku  masyarakat sehingga memberikan pengaruh terhadap ekonomi nasional. Bulan Ramadan idealnya semakin hemat pengeluran untuk konsumsi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Namun permintaan masyarakat akan produk dan jasa  di bulan Ramadan semakin naik.  Momen tersebut bisa ditangkap oleh para pengusaha untum meningkatkan income.

Namun disatu sisi, banyaknya permintaan menimbulkan kenaikan harga (Baca: Inflasi).  Dalam kajian ilmu ekonomi fenomena tingginya permintaan barang yang menyebabkan kenaikan harga disebut dengan istilah Demand Pull Inflations.

Kenaikan harga dibulan Ramadan tidak hanya dipengaruhi demand pull inflations. Faktor yang patut berpengaruh  adalah tukang spekulan harga yang memanfaatkan suasana. Barang yang awalnya harga normal, mumpung hari raya dan ramadan dinaikan dengan sengaja, dan akhirnya pasar mengikuti alur kenaikan yang diciptakan spekulan.

Pola kenaikan harga di bulan Ramadan bisa dicermati lewat data inflasi pra, saat dan pasca bulan Ramadan sejak tahun 2010 hingga 2015. Pola kenaikan harga selalu sama. Merangkan naik pra Ramadan, meluncur naik saat Ramadan dan harga kembali turun setelah hari raya.

Untuk membuktikan pola kenaikan harga pra,saat dan pasaca Ramadan, kita bisa mencermati data bulan puasa pada tahun 2010 yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 2010. Angka inflasi merangkak naik dari bulan Juni sebesar 0,97 lalu bergerak semakin naik pada Juli hingga menembus 1,57, kemudian bulan Agustus turun menjadi 0,76 dan September semakin turun menembus angka 0,44 (Data BPS, diolah kembali).

Pola harga merangkak naik pra Ramadan, lalu semakin naik pas Ramadan dan turun pasca Ramadan  kembali terulang pada tahun 2011. Bulan puasa pada tahun 2011 jatuh pada 1 Agustus. Inflasi sudah merangkak naik sejak bulan Juni sebesar 0,55, lalu juli 0,67 dan bulan Agustus pas bulan puasa inflasi menembus 0,93. Dan setelah ramadan, inflasi September hanya menyentuh  0,27.

Dan ditahun 2014 kenaikan harga saat bulan puasa kembali terulang.  Ramadan 2014 jatuh pada akhir bulan Juni tepatnya  tanggal 28. Bulan Juni angka inflasi sebesar  0,43, lalu pada bulan juli angka inflasi semakin melesat menembus 0,93 dan setelah hari raya harga kembali turun sehingga inflasi pada bulan agustus lebih rendah 0,47.

Data kenaikan harga di bulan suci yang disebabkan oleh permintaan masyarakat yang meningkat menunjukkan bahwa masyarakat belum bisa menahan, malah  jor joran. Seakan setelah ramadan sudah tidak ada kehidupan lagi.

Padahal kalau kita bisa cermat, momen ramadan bisa menjadi sarana untuk berhemat. Menyelipkan uang kita untuk kebutuhan pasca bulan Ramadan. Dan uang yang kita tabung saat bulan Ramadan bisa dibelanjakan pasca Ramadan. Mumpung pada saat  ramadan harga barang di pasar kembali turun.