Indonesia Berdikari dan Produktif

Sejarah selalu terulang meski pelaku dan waktu berbeda, akan  tetapi konteksnya masih  sama. Termasuk masalah ouput sekolah yang tidak terserap lapangan kerja dan penanaman modal asing yang hanya mengambil bahan mentah, tanpa melakukan kegiatan yang dapat membuka ruang kerja serta menyerap lulusan sekolah.

Masalah tentang ratusan ribu lulusan sekolah menengah dan sekolah tinggi masuk pintu pasar tenaga kerja dan sebagian tidak bisa terserap merupakan masalah lama. Mochtar Lubis menceritakan fenomena banyaknya lulusan yang tidak terserap pasar tenaga kerja tersebut dalam tajuk Koran Indonesia Raya pada tanggal 16 Maret 1971.

Mochtar Lubis membeberkan  dua faktor yang menyebabkan para  lulusan sekolah tidak terserap pasar. Pertama, investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia memang sudah membuka lapangan kerja baru. Namun, disisi lain investor asing hanya ingin mengambil bahan mentah yang melimpah dari Indonesia untuk dibawa ke negaranya, lalu diolah dinegaranya.  Alhasil  yang terjadi ialah alam dikeruk sementara  ruang kerja baru tidak di buka di Indonesia.

Lalu Mochtar Lubis membandingkan fakta pengelolaan bahan mentah di Indonesia dengan Australia. Bagaimana kebijakan negara tetangga seperti Australia tentang pengelolaan bahan mentah? Negeri  Kangguru tersebut mengambil kebijakan agar bahan-bahan mentah yang dihasilkan  diproses terlebih dahulu dalam negeri sebelum diekspor. Buah manis   proses mengelola bahan mentah di negeri sendiri sebelum diekspor ialah terbukanya lapangan kerja yang bersifat padat karya dan berhasil menyedot lulusan sekolah dan menggurangi pengangguran.

Sudut pandang kedua menurut  Mochtar Lubis  yang menyebabkan lulusan sekolah tidak terserap ke dalam pasar tenaga kerja ialah pemerintah Indonesia masa orde baru  yang kebijakannya fokus ekspor bahan mentah tanpa diolah terlebih dahulu.  Alhasil, ketika proses pengelolaan tidak dilakukan dalam negeri, lapangan kerja baru tidak terbuka bagi masyarakat dan pengangguran meningkat.

Baca Juga:  End Year Promo ASNI Jogja

Ditambah lagi, masih banyak sumber daya manusia yang rendah ketrampilan, keilmuan, dan  pengalaman pada saat itu. Masyarakat yang sekolah saja sulit masuk ke dalam dunia kerja, apalagi masyarakat yang tidak pernah makan bangku sekolah, tidak pengalaman, dan tidak memiliki ketrampilan.

Pelajaran tentang kebijakan ekonomi yang fokus terhadap ekspor bahan mentah di masa orde baru 1971 ada dua hal. Pertama,  fokus ekspor bahan mentah tanpa pengelolaan dalam negeri menyebabkan lapangan kerja baru tertutup, alhasil pengangguran akan melambung tinggi. Kedua, Masyarakat Indonesia cuma menjadi penonton ketika kekayaan alam yang dimiliki diangkut oleh investor luar negeri. Lalu di luar negeri bahan mentah tersebut diolah menjadi produk, dan rakyat Indonesia kembali menjadi pasar produk-produk luar negeri.

Membangun Masyarakat Produktif dan Kreatif

Nenek moyang bangsa Indonesia memiliki sifat pencipta, produktif, dan kreatif. Banyak sekali warisan-warisan hasil karya nenek moyang kita yang masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Paling gampang ambil saja contoh karya makanan. Nenek moyang kita dahulu menciptakan makanan khas mulai dari soto, sate, rawon dan masih banyak lainnya.

Nenek moyang bangsa kita ini memang sangat kreatif, memanfaatkan kekayaan alam untuk membuat produk yang dapat dinikmati. Nenek moyang kita bukan bangsa konsumtif yang selalu disuguhi produk-produk luar. Nenek moyang kita sudah berdikari.

Semangat  pencipta  produk itu yang mesti diteladani generasi muda. Semangat mengelola yang harus terus ditumbuhkan dalam benak anak-anak muda. Jadilah subyek sejarah  dunia, jangan menjadi obyek sejarah. Jadilah bangsa yang produktif, dan tanamkan dalam diri bahwa sifat konsumtif ialah sifat memalukan.

Ketika  generasi muda memiliki ketrampilan dan produktif, maka alam kita yang kaya ini  harus kita kelola sendiri dan demi kepentingan masyarakat. Agar sejarah kelamnya masyarakat di era orde baru tidak terulang lagi. Agar alam yang kita miliki tidak diambil oleh investor yang rakus. Mari generasi muda semangat belajar berwirausaha. Mengasah ketrampilan lewat jalan  UMKM atau mencoba bisnis, agar alam yang kaya raya ini bisa kita kelola sendiri dan bisa membuka  pekerjaan baru bagi masyarakat. 

Baca Juga:  Strategi Menggunakan Hashtag Untuk Bisnis