Ironi Ritel: Sebuah Fenomena Terbenam dan Tersingkir

media sosial

Setiap yang hidup bakal mati. Setiap bisnis yang makmur akan menemui ajal. Bisnis menemui ajal bukan karena nyawa  yang  ditakdirkan Tuhan telah habis. Tetapi, bisnis mati karena tidak mampu memberikan sentuhan inovasi dan menyesuaikan zaman. Bisnis ritel yang pernah menjadi  kerjaaan besar dengan bala tentaranya,  runtuh dihantam  peluru-peluru yang muncul dari senjata bisnis online.

Dan peluru-peluru itu sudah meruntuhkan kerajaan ritel yang sudah menggurita. Tren belanja masyarakat bergeser. Konsumen lebih suka berbelanja lewat ruang online yang menawarkan kemudahan. Tinggal pilih menu komoditas yang tersedia di dashboard sebuah marketplace, media sosial serta e-commerce, tentunya  tanpa perlu keluar rumah, barang langsung bisa ditangan.  Pergeseran proses pembelian komoditas lewat sistem online telah  meruntuhkan  sejumlah toko ritel. Mereka gulung tikar, lunglai lalu menemui ajal. Tinggal nama yang tertulis dalam batu nisan sejarah bisnis ritel.

Berikut lima toko ritel yang menutup gerainya akibat terjadinya pergeseran tren belanja masyarakat Indonesia yang dirilis situs rappler.com.

1. 7-Eleven

7-Eleven lunglai dan terbenam tutup usia  30 Juni 2017. Kematiannya   terjadi akibat racun  kerugian yang masuk ke dalam tubuhnya sebesar Rp 447,9 miliar pada  kuartal 1  tahun 2017. Racun yang menambah mereka cepat terbenam ialah  strategi pemasaran.  Manajemen membiarkan pengunjung yang hanya membeli minuman atau makanan serta berlama-lama menikmati fasilitas yang ada. Nyawa yang masuk tidak sebanding dengan keluar.

2. Matahari di Pasaraya dan Manggarai

PT. Matahari Department Store di Pasaraya Blok. M dan Pasaraya Manggarai ikut tumbang.  Tumbangnya salah satu cabang pohon besar PT. Matahari Department Store diakibatkan akar mereka tercerabut lantaran  digerogoti oleh sepinya pengunjung.  Sehingga target mereka untuk tumbuh harus pupus didahului mampus.  Tumbangnya cabang pohon besar PT. Matahari Department Store di Pasaraya Blok. M dan Pasaraya Manggarai merupakan indikator pergeseran belanja baju yang awalnya ke  toko offline , ini bergeser ke online.

Baca Juga:  Manfaat Blog Untuk Bisnis

3. Disc Tarra

Seperti matahari disore hari yang terbenam, Perusahaan ritel CD musik Disc Tarra juga tenggelam, dan memasukkan 100 gerainya ke dalam peti mati pada  tahun 2016.

Disc Tarra yang merupakan ritel CD musik mampus akibat  pergeseran tren belanja masyarakat dari  bentuk fisik menjadi  tren download  musik atau film dari internet.   Masyarakat lebih suka yang praktis,  menikmati musik lewat  digital platform atau streaming yang bisa dinikmati kapan saja dan dimana saja tanpa harus mengeluarkan dompet.

4. Lotus

Malaikat maut juga mencabut nyawa Toko ritel perbelanjaan Lotus yang berlokasi di Thamrin, Jakarta.  Penyakit utama menyerang , beban operasional Lotus yang meningkat. Namun,  tidak imbangi dengan pemasukan dari penjualan.

5. Debenhams

Toko online memang penebar maut yang siap merebut pasar ritel. Debenhams toko ritel asal Inggris juga harus tersingkir dan terbenam. Debenhams mengubur  toko ritelnya di berbagai tempat seperti Supermall Karawaci, Kemang Village dan Senayan City.