Mati Muda

Piala dunia menjadi ajang untuk menunjukkan kekuatan sepak bola sebuah bangsa. Setiap negara memberikan suntikan dana besar, untuk membangun manajemen dan para pemain terbaik. Hujan dana diturunkan demi menjadi bangsa raksasa dan super power dalam bidang sepakbola. Ibarat pertempuran, negara melatih tentara paling militan, membangun strategi dan membeli peralatan tempur mutakhir. Secara simultan negara memasang doktrin kepada masyarakat untuk selalu membela bangsanya.

Kini piala dunia 2018 sudah bergulir.  Gegap gempita menyeruak saat  gol-gol terbaik tersaji. Rasa bahagia  menyeruak di dada tim dan suporter yang memenangkan laga dan lanjut menuju babak selanjutnya. Sebaliknya, tangisan keluar dari tim dan supporter yang harus bertekuk lutut melihat timnya kalah.

Seperti pertempuran besar, sepakbola merupakan kekuatan kerjasama tim. Namun, selalu ada pemain yang dijuluki sebagai  kunci sebuah tim memetik kemenangan. Pemain yang dicap sebagai kunci kemenangan biasanya dilempar jutaan pujian yang keluar dari mulut publik.

Ada yang dilempari pujian, ada juga yang dilempari caci maki. Selalu ada kambing hitam yang disalahkan dan dicap sebagai biang kerok kekalahan tim. Supporter yang ekstrim kadang menyalahkan, menyudutkan, bahkan mencaci secara serampangan  pemain yang menjadi kunci kekalahan sebuah tim.

Cap sebagai biang kerok tersebut bertahan lama dalam pikiran para supporter, bahkan pemain yang dicap biang kerok tersebut menjadi manusia yang terpinggirkan.

“Keberuntungan pertama adalah tidak dilahirkan. Keberuntungan kedua adalah mati muda” ayat yang keluar dari alam pikiran Soe Hok Gie tersebut kadang benar bagi orang yang sudah kena cap biang kerok atau biang kesalahan sebuah tim.  Mending tidak dilahirkan atau mati muda saja dari pada hidup bising dikoyak caci maki seakan bukan manusia lagi.

Baca Juga:  Mengapa Banyak Karyawan Resign?

Sejarah manusa yang dikoyak caci maki hingga mati oleh supporter pernah terjadi di Brazil. Ia adalah Moacir Barbosa kiper Brazil saat laga final piala dunia 1950 melawan Uruguay.  Gawangya kebobolan pada menit 66 dan 79. Stadioan Maracana Brazil sebagai saksi pertandingan agung langsung sunyi senyap seperti Jepang, pasca bom Hiroshima meledak. Supporter Brazil  kecewa, sebab kekelahan paling pahit itu berada di rumahnya dan disaksikan di depan mata.

Dua gol dari kaki pemain Uruguay mengunci brazil masuk pintu kemenangan. Supporter membawa amukan rasa kecewa. Ekspektasi kemenangan sudah hilang direnggut Uruguay.  Amukan dan kekecewaan akhirnya bermuara pada wajah Moacir Barbosa. Ia dianggap kiper yang yang tak becus. Ekspektasi publik Brazil remuk. Barbosa dikutuk supporter Brazil sebagai pembawa sial, gawangnya kebobolan. Mutlak publik  Brazil tidak bisa merebut piala dunia.

Publik Brazil belum bisa memaafkan Moacir Barbosa. Nelson Dida pada tahun 1995 mendesak pihak CBF (PSSI-nya Brazil) untuk meminta maaf pada Moacir Barbosa. Namun hingga nyawa Moacir Barbosa dijemput malaikat, pihak CBF tidak melangkah  memberikan maaf. Bahkan sampai ajal menjemput Moacir Barbosa, pihak CBF enggan hadir diacara pemakamannya.

Sebelum malaikat maut menjemput Moacir Barbosa, ia mengungkapkan kesedihannya atas cap buruk yang melekat padanya. “Orang lupa bahwa pada piala dunia 1974 dan 1978, kita dihina amat buruk. Dan bagaimana rasa malu itu bertambah saat dikalahkan Prancis di piala dunia 1998. Tetapi kenapa orang-orang tak pernah lupa dan lebih suka berbicara tentang 1950?”

Moacir Barbosa dikoyak kepahitan, dicerca, dan selalu dipojokkkan meski waktu sudah berjalan jauh. Sampai ia bertanya-tanya, kenapa publik Brazil selalu memojokkannya, padahal kiper-kiper lain juga pernah kebobolan saat piala dunia. Ia seperti berbicara bahwa, “Kesalahan Lebih Diingat Manusia, Ketimbang  Pemberian dan Jasa,.”

Baca Juga:  Strategi Marketing B2C dan B2B